Komaruddin Hidayat: Pers Harus Jadi Penjernih di Tengah Arus Disinformasi

Nasional 03 May 2026 10:11 3 min read 115 views By Wahyu

Share berita ini

Komaruddin Hidayat: Pers Harus Jadi Penjernih di Tengah Arus Disinformasi
Jakarta, amunisicyber.my.id - Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menekankan pentingnya menjadi...

Jakarta, amunisicyber.my.id - Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menekankan pentingnya menjadi jurnalis yang berintegritas dan bertanggung jawab dalam menjaga demokrasi serta perdamaian dunia.

 

Menurutnya, peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia bukan sekadar momentum merayakan kebebasan berpendapat, melainkan pengingat bahwa insan pers memikul tanggung jawab besar dalam membangun peradaban dan menjaga perdamaian di tengah derasnya arus informasi global yang kerap memicu polarisasi. 

Dengan mengusung tema “Pers Berkualitas untuk Masa Depan yang Damai dan Adil”, momentum ini menjadi pengingat penting bahwa di tengah disrupsi informasi, pers yang sehat merupakan jangkar peradaban.

 

Dalam kesempatan tersebut, Komaruddin menyampaikan dua pesan utama kepada insan pers. Pertama, mengenai peran strategis pers berkualitas.

Menurutnya, pers bukan hanya penyampai berita, melainkan instrumen penting untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

 

Di tengah maraknya polusi serta manipulasi informasi yang sering memicu konflik, media harus hadir sebagai penjernih informasi.

“Kita harus menyadari, tanpa informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif, mustahil dapat merajut kedamaian yang berkelanjutan. Setiap karya jurnalistik yang kita hasilkan adalah investasi nyata bagi nalar publik yang sehat,” ujarnya. (03/05/2026) 

 

Pesan kedua berkaitan dengan pentingnya menjaga keberlanjutan masa depan yang adil melalui pers yang bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa demokrasi hanya dapat berdiri kokoh apabila masyarakat menerima informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Pers adalah penjaga nalar publik. Tanpa kualitas pers yang terjaga, demokrasi akan menjadi rapuh dan keberlanjutan bangsa ini akan terus terancam oleh arus disinformasi yang destruktif,” katanya.

 

Komaruddin juga menyebut perjuangan menjaga nalar publik tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan harus menjadi gerakan bersama masyarakat global. Semangat tersebut diperkuat melalui langkah UNESCO yang akan menggelar konferensi Hari Kebebasan Pers Sedunia pada 4–5 Mei 2026 di Lusaka, Zambia.

 

Forum internasional itu akan menjadi panggung utama dunia untuk membahas tren terbaru kebebasan berekspresi sekaligus memetakan arah media global yang semakin menantang.

Menurutnya, apa yang dibahas di Zambia juga menjadi perhatian serius di Indonesia, karena tantangan terhadap kebebasan pers terus berkembang dan insan pers harus mampu beradaptasi tanpa menggadaikan integritas.

Di akhir pernyataannya, Komaruddin mendorong segera terwujudnya regulasi yang menghargai hak cipta karya jurnalistik serta kebijakan “No Tax for Knowledge”, yakni pembebasan pajak bagi produk intelektual yang dinilai turut mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

“Kepada seluruh insan pers di penjuru tanah air, jadilah garda terdepan dalam merawat demokrasi. Mari buktikan bersama bahwa pers Indonesia mampu menjadi pilar utama dalam menciptakan masa depan yang demokratis, bebas, damai, adil, dan berkelanjutan,” tutupnya. (Wahyu) 

AmunisiCyber
Chat with us on WhatsApp